Admin/ April 24, 2019/ Berita/ 0 comments

Wakaf merupakan salah satu instrument kesejahteraan sosial  yang disyariatkan Islam, berupa kegiatan menyalurkan harta dengan ketentuan tahbis al-ashl wa tashbil al-tsamrah atau menahan pokok harta dan menyalurkan manfaatnya, sebagaiman diindakasikan oleh hadits nabi. Hal ini menjadikan harta wakaf abadi dan tidak berkurang, sementara manfaatnya dapat terus mengalir  “sampai jauh”  tanpa adanya batas dan dapat terus dikembangkan.

Di Indonesia, wakaf memiliki potensi yang sangat besar. Data wakaf mutakhir yang diperoleh dari SIWAK (Sistem Informasi Wakaf) Kemenag RI  tertanggal 23 April 2019 menyebut adanya wakaf tanah di 359.607 lokasi dengan luas 48.492.08 hektar, yang  62,47 persen diantaranya telah bersertifikat. Sementara itu wakaf tunai (cash waqf) memiliki potensi 180 triliun, sebagaimana disebut Republika Online pada 16 Oktober 2018. Dengan melihat jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim, potensi tersebut bukanlah suatu impian yang mustahil diwujudkan jika para nadzir wakaf selaku pengelola harta dan asset wakaf dapat bertindak secara professional dan amanah sehingga memicu adanya trust dari para wakif (donator) baru untuk berderma dan menyerahkan harga yang dimiliki.

Permasalahan pengelolaan wakaf yang berkenaan dengan nadzir wakaf secara umum adalah profesionalisme nadzir dan transparansi manajemen. Profesionalisme nadzir sering dipertanyakan seiring dengan peran ganda mereka dalam menjalani profesi ini. Hal ini berarti bahwa profesi nadzir wakaf dianggap sampingan, sehingga kurang serius digeluti. Sementara itu permasalahan transparansi  manajemen wakaf yang menghadirkan jaminan kepercayaan dalam pengelolaan aset belum menjadi fokus dan perhatian, sehingga  pelaporan tentang penggunaan asset dan perkembangannya seringkali terabaikan.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap pengelolaan wakaf di tingkat regional Ponorogo, Fakultas Agama Islam menyelenggarakan  FGD Stakeholder dan Nadzir Wakaf Ponorogo berkenaan dengan manajemen asset Wakaf Produktif, pada Rabu 24 April 2019. Acara yang diikuti oleh para nadzir Wakaf  dari berbagai  pihak seperti pesantren (Gontor, Ngabar, Arrisalah, Darul Fikri, al-Iman), ormas (NU dan Muhammadiyah), dan para pemangku kebijakan seperti Kemenag Ponorogo, Badan Wakaf Ponorogo, Asosiasi Nadzir dan para pakar wakaf. Kegiatan yang dibuka oleh Kasi Gara Kemenag Ponorogo dan diawali oleh sambutan Dekan FAI Unmuh Ponorogo memiliki tujuan yang diantaranya adalah: menjalin silaturrahim antara para stakeholder dan nadzir wakaf Ponorogo; memetakan potensi masalah dalam manajemen asset wakaf; serta menjaring masukan berharga bagi penyusunan sebuah sistem manajemen aset wakaf yang komprehensif.

Share this Post

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*